Selasa, 11 Desember 2018
Kamis, 18 Oktober 2018
Ringkasan desain stasiun kerja
RINGKASAAN BAB 2
Desain Stasiun Kerja
Salah satu definisi ergonomi yang menitik beratkan pada penyesuaian desain terhadap manusia adalah dikemukakan oleh Annis & McConville (1996) dan Manuaba (1999). Mereka menyatakan bahwa ergonomi adalah kemampuan untuk menerapkan informasi menurut karakter manusia, kapasitas dan keterbatasannya terhadap desain pekerjaan, mesin dan sistemnya, ruangan kerja dan lingkungan sehingga manusia dapat hidup dan bekerja secara sehat, aman, nyaman dan efisien. Sedangkan Pulat (1992) menawarkan konsep desain produk untuk mendukung efisiensi dan keselamatan dalam penggunaan desain produk. Konsep tersebut adalah desain untuk reliabilitas, kenyamanan, lamanya waktu pemakaian, kemudahan dalam pemakaian, dan efisien dalam pemakaian. Selanjutnya agar setiap desain produk dapat memenuhi keinginan pemakainya maka harus dilakukan melalui beberapa pendekatan sebagai berikut:
- Mengetahui kebutuhan pemakai. Kebutuhan pemakai dapat didefinisikan berdasarkan kebutuhan dan orientasi pasar, wawancara langsung dengan pemakai produk yang potensial dan menggunakan pengalaman pribadi.
- Fungsi produk secara detail. Fungsi spesifik produk yang dapat memuaskan pemakai harus dijelaskan secara detail melalui daftar item masing-masing fungsi produk.
- Melakukan analisis pada tugas-tugas desain produk.
- Mengembangkan produk.
- Melakukan uji terhadap pemakai produk.
Lebih lanjut, suatu desain produk disebut ergonomis apabila secara antropometris, faal, biomekanik dan psikologis kompatibel dengan manusia pemakainya. Di dalam mendesain suatu produk maka harus berorientasi pada production friendly, distribution friendly, installation friendly, operation friendly dan maintenance friendly. Di samping hal-hal tersebut di atas di dalam mendesain suatu produk yang sangat penting untuk diperhatikan adalah suatu desain yang berpusat.
- Pendekatan
Menurut Das and Sengupta (1993) pendekatan secara sistemik untuk menentukan dimensi stasiun kerja dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
- Mengidentifikasi variabilitas populasi pemakai yang didasarkan pada etnik, jenis kelamin dan umur.
- Mendapatkan data antropometri yang relevan dengan populasi pemakai.
- Dalam pengukuran antropometri perlu mempertimbangkan pakaian, sepatu dan posisi normal.
- Menentukan kisaran ketinggian dari pekerjaan utama. Penyediaan kursi dan meja kerja yang dapat distel, sehingga operator dimungkinkan bekerja dengan sikap duduk maupun berdiri secara bergantian.
- Tata letak dari alat-alat tangan, kontrol harus dalam kisaran jangkauan optimum.
- Menempatkan displai yang tepat sehingga operator dapat melihat objek dengan pandangan yang tepat dan nyaman.
- Review terhadap desain stasiun kerja secara berkala.
- Pertimbangan
Demikian maka dalam setiap desain peralatan dan stasiun kerja, keterbatasan manusia harus selalu diperhitungkan, di samping kemampuan dan kebolehannya. Mengingat bahwa setiap manusia berbeda satu dengan yang lainnya, maka aplikasi data antropometri dalam desain produk dapat meliputi; desain untuk orang ekstrim (data terkecil atau terbesar); desain untuk orang per orang, desain untuk kisaran yang dapat diatur (adjustable range) dengan menggunakan persentil-5 dan persentil-95 dari populasi dan desain untuk ukuran rerata dengan menggunakan data persentil-50 (Sanders & McCormick, 1987).
Faktor yang mempengaruhi antara lain perbaikan tingkat kemakmuran yang menyebabkan peningkatan status gizi masyarakat. Tarwaka (1995) dalam penelitian tentang perkembangan antropometri tenaga kerja di Bali (n = 630 orang) melaporkan bahwa terdapat perbedaan ukuran tubuh yang signifikan antara tahun 90-an dengan tahuDesain Stasiun KerjaDesain Stasiun KerjaDesain Stasiun Kerja
Desain Stasiun KerjaDesain Stasiun Kerjan 70-an. Sebagai ilustrasi bahwa antara kedua dekade tersebut ternyata rerata tinggi badan telah mengalami perkembangan sebesar ± 2,46 cm, tinggi siku berdiri sebesar ±4,88 cm, lebar bahu sebesar ± 6,25 cm. Sedangkan untuk lebar pinggul ternyata lebih kecil sebesar ± 2,41 cm, kemungkinan besar disebabkan karena adanya kecenderungan untuk melangsingkan tubuh sehingga pinggul lebih ramping. Untuk ukuran tinggi siku duduk lebih rendah sebesar ±1,59 cm, kemungkinan disebabkan karena ukuran lengan atas bertambah panjang sehingga menyebabkan ketinggian siku semakin rendah.
- Desain Stasiun Kerja dan Sikap Kerja Berdiri
Pada desain stasiun kerja berdiri, apabila tenaga kerja harus bekerja untuk periode yang lama, maka faktor kelelahan menjadi utama. Untuk meminimalkan pengaruh kelelahan dan keluhan subjektif maka pekerjaan harus didesain agar tidak terlalu banyak menjangkau, membungkuk, atau melakukan gerakan dengan posisi kepala yang tidak alamiah. Untuk maksud tersebut Pulat (1992) dan Clark (1996) memberikan pertimbangan tentang pekerjaan yang paling baik dilakukan dengan posisi berdiri adalah sebagai berikut:
1) tidak tersedia tempat untuk kaki dan lutut;
2) harus memegang objek yang berat (lebih dari 4,5 kg);
3) sering menjangkau ke atas, ke bawah, dan ke samping;
4) sering dilakukan pekerjaan dengan menekan ke bawah; dan 5) di perlukan mobilitas tinggi.
Dalam mendesain ketinggian landasan kerja untuk posisi berdiri, secara prinsip hampir sama dengan desain ketinggian landasan kerja posisi duduk. Manuaba (1986); Sanders & McCormick (1987); Grandjean (1993) memberikan rekomendasi ergonomis tentang ketinggian landasan kerja posisi berdiri didasarkan pada ketinggian siku berdiri sebagai tersebut berikut ini.
- Untuk pekerjaan memerlukan ketelitian dengan maksud untuk mengurangi pembebanan statis pada otot bagian belakang, tinggi landasan kerja adalah 510 cm di atas tinggi siku berdiri.
- Selama kerja manual, di mana pekerja sering memerlukan ruangan untuk peralatan; material dan kontainer dengan berbagai jenis, tinggi landasan kerja adalah 10-15 cm di bawah tinggi siku berdiri.
- Untuk pekerjaan yang memerlukan penekanan dengan kuat, tinggi landasan kerja adalah 15-40 cm di bawah tinggi siku berdiri. Ketinggian landasan kerja untuk sikap kerja berdiri dapat diilustrasikan seperti gambar 2.5.
RINGKASAN BAB 5
Organisasi Kerja dan Kebutuhan Gizi Kerja
- Fisiologi Tubuh Saat Bekerja dan Istirahat
Menurut Suma’mur (1982) bahwa bekerja adalah anabolisme yaitu mengurai atau menggunakan bagian-bagian tubuh yang telah dibangun sebelumnya. Dalam keadaan demikian, sistem syaraf utama yang berfungsi adalah komponen simpatis. Maka pada kondisi seperti itu, aktivitas tidak dapat dilakukan secara terus-menerus, melainkan harus diselingi istirahat untuk memberi kesempatan tubuh melakukan pemulihan. Pada saat istirahat tersebut, maka tubuh mempunyai kesempatan membangun kembali tenaga yang telah digunakan (katabolisme).
Pada saat bekerja, otot mengalami kontraksi atau kerutan dan pada saat istirahat terjadi pengendoran atau relaksasi otot. Dengan kontraksi, peredaran darah yang membawa oksigen dan bahan makanan serta menyalurkan keluar sisa-sisa metabolisme terhambat. Dengan demikian antara kerutan dan pengendoran otot harus terjadi secara seimbang untuk mencegah terjadinya kelelahan otot yang lebih awal. Secara lebih luas lagi, pembagian waktu kerja dan istirahat lazimnya adalah bekerja pada waktu siang dan istirahat di malam harinya. Setelah pada siang harinya kita bekerja selama kurang lebih 8 jam mengalami kepenatan, maka pada malam harinya diupayakan untuk melakukan pemulihan tenaga agar keesokan harinya dapat bekerja kembali secara bugar.
Secara fisiologis, apabila pemulihan pada malam hari tidak cukup, maka secara otomatis performansi kerja pada hari berikutnya akan menurun.
- Pengaturan Waktu Kerja dan Waktu Istirahat
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa pengaturan waktu kerja-waktu istirahat harus disesuaikan dengan sifat, jenis pekerjaan dan faktor lingkungan yang mempengaruhinya seperti lingkungan kerja panas, dingin, bising, berdebu dll. Namun demikian secara umum, di Indonesia telah ditetapkan lamanya waktu kerja sehari maksimum adalah 8 jam kerja dan selebihnya adalah waktu istirahat (untuk kehidupan keluarga dan sosial kemasyarakatan). Memperpanjang waktu kerja lebih dari itu hanya akan menurunkan efisiensi kerja, meningkatkan kelelahan, kecelakan, dan penyakit akibat kerja. Tetapi dalam pelaksanaannya, banyak perusahaan yang mempekerjakan karyawannya di luar jam kerja (kerja lembur) dengan berbagai alasan. di sisi lain para karyawan juga merasa senang melakukan kerja lembur, karena akan mendapatkan penghasilan tambahan di luar penghasilan pokok.
Dalam hal lamanya waktu kerja melebihi ketentuan yang telah ditetapkan (8 jam per hari atau 40 jam seminggu), maka perlu diatur waktu-waktu istirahat khusus agar kemampuan kerja dan kesegaran jasmani tetap dapat dipertahankan dalam batas-batas toleransi. Pemberian waktu istirahat tersebut secara umum dimaksudkan untuk: ¾ Mencegah terjadinya kelelahan yang berakibat kepada penurunan kemampuan fisik dan mental serta kehilangan efisiensi kerja ¾ Memberi kesempatan tubuh untuk melakukan pemulihan atau penyegaran ¾ Memberi kesempatan waktu untuk melakukan kontak sosial Kaitanya dengan masalah waktu istirahat, berdasarkan pengalaman dan pengamatan di lapangan, ternyata terdapat empat jenis istirahat yang dilakukan oleh para pekerja selama jam kerja berlangsung, yaitu istirahat secara spontan, istirahat curian, istirahat oleh karena ada hubungannya dengan proses kerja dan istirahat yang merupakan ketetapan resmi.
- Istirahat spontan adalah istirahat pendek segera setelah pembebanan kerja. Sebagai contoh: pekerja mengangkat dan mengangkut beras secara manual seberat 50 kg dengan jarak 15 meter. Setelah meletakkan beras tersebut secara otomatis pekerja akan beristirahat pendek untuk mengembalikan hutang oksigen yang telah digunakan pada waktu mengangkat dan mengangkut tadi.
- Istirahat curian adalah istirahat yang terjadi jika beban kerja tak dapat diimbangi oleh kemampuan kerja. Istirahat demikian terjadi apabila beban pekerjaan baik fisik maupun mental lebih besar dari kemampuan kerjanya, sehingga menimbulkan reaksi tubuh untuk mengatasi kelebihan beban tersebut.
- Istirahat oleh karena proses kerja tergantung dari bekerjanya mesin-mesin, peralatan atau prosedur-prosedur kerja. Sebagai contoh: pada proses produksi dengan system ban berjalan, waktu istirahat tergantung dari ketrampilan dan kecepatan kerja operatornya. Semakin terampil dan cepat dia bekerja maka akan semakin banyak waktu istirahat yang diperoleh.
- Istirahat yang ditetapkan adalah istirahat atas dasar ketentuan perundangundangan yang berlaku, seperti istirahat selama 1 jam setelah melakukan 4 jam kerja, dan diselingi dengan istirahat 15 menit setelah 2 jam kerja dll.
- Hari Kerja
Jumlah jam kerja yang efisien untuk seminggu adalah antara 40 - 48 jam yang terbagi dalam 5 atau 6 hari kerja. Maksimum waktu kerja tambahan yang masih efisien adalah 30 menit. Sedangkan di antara waktu kerja harus disediakan waktu istirahat yang jumlahnya antara 15-30% dari seluruh waktu kerja. Apabila jam kerja melebihi dari ketentuan tersebut akan ditemukan hal-hal seperti; penurunan kecepatan kerja, gangguan kesehatan, angka absensi karena sakit meningkat, yang kesemuanya akan bermuara kepada rendahnya tingkat produktivitas kerja.
- Kebutuhan Gizi
Kerja Gizi kerja adalah pemberian gizi yang diterapkan kepada masyarakat pekerja dengan tujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan, efisiensi dan produktivitas kerja yang setinggi-tingginya. Sedangkan manfaat yang diharapkan dari pemenuhan gizi kerja adalah untuk mempertahankan dan meningkatkan ketahanan tubuh serta menyeimbangkan kebutuhan gizi dan kalori terhadap tuntutan tugas pekerja.
- Zat gizi dan sumber makanan
hal-hal yang perlu diketahui dalam penyusunan menu bagi pekerja adalah : ¾ Kebutuhan kalori dan gizi tenaga kerja ¾ Kebutuhan bahan dasar menu ¾ Pendekatan penyusunan menu bagi pekerja sesuai dengan lingkungan kerja.
- Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan gizi seseorang
Kebutuhan gizi setiap orang berbeda satu sama lainnya dan sangat tergantung pada berbagai faktor yaitu :
- Ukuran tubuh. Semakin besar ukuran tubuh seseorang maka semakin besar pula kebutuhan kalorinya, meskipun usia, jenis kelamin dan aktivitas yang dilakukan sama.
- Usia. Anak-anak dan remaja membutuhkan relatif lebih banyak kalori dan zat gizi lainnya dibanding dengan orang dewasa atau tua, karena selain diperlukan untuk tenaga juga untuk pertumbuhan.
- Jenis kelamin. Laki-laki umumnya membutuhkan lebih banyak kalori dibandingkan dengan wanita. Hal ini karena secara fisiologis laki-laki mempunyai lebih banyak otot dan juga lebih aktif.
- Kegiatan/aktivitas pekerjaan yang dilakukan. Pekerja berat akan membutuhkan kalori dan protein lebih besar dari pada mereka yang bekerja sedang dan ringan.
- Kondisi tubuh tertentu. Pada orang yang baru sembuh dari sakit akan membutuhkan lebih banyak kalori dan zat gizi lainnya dari pada sebelum ia sakit.
- Kondisi lingkungan. Pada musim hujan membutuhkan kalori lebih tinggi/ banyak dibandingkan pada musim panas. Demikian pula pada tempat-tempat yang dingin lebih tinggi dari pada tempat dengan suhu panas.
- Pengaruh Faktor Lingkungan Kerja
Faktor dalam lingkungan kerja menunjukkan pengaruh - pengaruh yang jelas terhadap keadaan gizi tenaga kerja. Beban kerja yang berlebihan dan lingkungan kerja panas dapat menyebabkan penurunan berat badan (Priatna, 1990).
Sabtu, 15 September 2018
Nama : Siti Mutmainnah
Nim : 1730403075
Kelas : 17 PUS B
Makul : pengantar ilmu perpustakaan
Dosen : Rusmiatiningsih,S.Hum.,M
Nim : 1730403075
Kelas : 17 PUS B
Makul : pengantar ilmu perpustakaan
Dosen : Rusmiatiningsih,S.Hum.,M
Link :
Pengertian Bahan Pustaka
Bahan pustaka adalah bagian dari koleksi perpustakaan yang ada di perpustakaan.
Menurut Yulilia (1995: 3) Bahan pustaka adalah kitab, buku
Menurut Bafadal (2001: 24) menyatakan ‘’bahwa bahan pustaka adalah salah satu koleksi perpustakaan yang berupa karya cetak seperti buku teks (buku pengunjung), buku fisik, dan buku referensi yang dikumpulkan, diolah dan disimpan untuk di sajikan kepada pengguna untuk memenuhi kebutuhan informasi”.
Untuk setiap bahan pustaka yang ada diperpustakaan perguruan tinggi harus sesuai dengan kebutuhan setiap program studi yang ada diperguruan tinggi tempat perpustakaan itu berada, sehingga koleksi tersebut dapat dipergunakan untuk membantu pengguna dalam proses blajara mengajar.
Untuk setiap bahan pustaka yang ada diperpustakaan perguruan tinggi harus sesuai dengan kebutuhan setiap program studi yang ada diperguruan tinggi tempat perpustakaan itu berada, sehingga koleksi tersebut dapat dipergunakan untuk membantu pengguna dalam proses blajara mengajar.
Pelestarian Bahan pustaka
Perpustakaan sebagai salah satu pusat informasi, bertugas mengumpulkan, mengolah dan menyajikan bahan pustaka untuk dapat dimanfaatkan oleh pengguna secara efektif dan efisien. Agar bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan dapat digunakan dalam jangka waktu yang relaif lama, perlu suatu penanganan agar bahan pustaka terhindar dari kerusakan, atau setidaknya diperlambat proses kerusakannya, dan mempertahankan kandungan informasi itu yang sering kita sebut sebagai preservasi bahan pustaka. Dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai pengertian, maksud dan tujuan, fungsi, dan unsur-unsur pelestarian bahan pustaka.
Pengertian Pelestarian Bahan Pustaka
Di lingkungan perpustakaan, arsip dan museum belum ada kesepakatan dalam menafsirkan istilah pelestarian (preservation). Perbedaan ini dapat dilihat dalam beberapa buku yang membahas berbagai definisi mengenai pelestarian atau preservasi. Dalam The Principles for The Preservation and Conservation of Library Materials yang disusun oleh J.M. Dureau dan D.W.G. Clements, preservasi mempunyai arti yang lebih luas, yaitu mencakup unsur-unsur pengelolaan keuangan, cara penyimpanan, tenaga, teknik dan metode untuk melestarikan informasi dan bentuk fisik bahan pustaka. Sedangkan definisi lain menurut Introduction to Conservation, terbitan UNESCO tahun 1979 disebutkan bahwa istilah preservasi berarti penanganan yang berhubungan langsung dengan benda, kerusakan oleh karena udara lembab, faktor kimiawi, serangan dari mikroorganisme yang harus dihentikan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut (Perpustakaan Nasional, 1995:2).
Menurut Hazen sebagaimana dikutip oleh Gardjito (1991:91), istilah pelestarian meliputi 3 ragam kegiatan, yaitu:
kegiatan-kegatan yang ditujukan untuk mengontrol lingkungan perpustakaan agar dapat memenuhi syarat-syarat pelestarian bahan-bahan pustaka yang tersimpan di dalamnya;
berbagai kegiatan yang berkaitan dengan usaha-usaha untuk memperpanjang umur bahan pustaka, misalnya dengan cara deasidifikasi, restorasi, atau penjilidan ulang; dan
seluruh kegiatan yang berkaitan dengan usaha untuk mengalihkan isi informasi dari satu bentuk format atau matrik ke bentuk lain. Setiap kegiatan menurut kategori-kategori tersebut itu tentu saja masih dapat dikembangkan lagi ke dalam berbagai aktivitas lain yang lebih khusus dan rinci.
Perpustakaan sebagai salah satu pusat informasi, bertugas mengumpulkan, mengolah dan menyajikan bahan pustaka untuk dapat dimanfaatkan oleh pengguna secara efektif dan efisien. Agar bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan dapat digunakan dalam jangka waktu yang relaif lama, perlu suatu penanganan agar bahan pustaka terhindar dari kerusakan, atau setidaknya diperlambat proses kerusakannya, dan mempertahankan kandungan informasi itu yang sering kita sebut sebagai preservasi bahan pustaka. Dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai pengertian, maksud dan tujuan, fungsi, dan unsur-unsur pelestarian bahan pustaka.
Pengertian Pelestarian Bahan Pustaka
Di lingkungan perpustakaan, arsip dan museum belum ada kesepakatan dalam menafsirkan istilah pelestarian (preservation). Perbedaan ini dapat dilihat dalam beberapa buku yang membahas berbagai definisi mengenai pelestarian atau preservasi. Dalam The Principles for The Preservation and Conservation of Library Materials yang disusun oleh J.M. Dureau dan D.W.G. Clements, preservasi mempunyai arti yang lebih luas, yaitu mencakup unsur-unsur pengelolaan keuangan, cara penyimpanan, tenaga, teknik dan metode untuk melestarikan informasi dan bentuk fisik bahan pustaka. Sedangkan definisi lain menurut Introduction to Conservation, terbitan UNESCO tahun 1979 disebutkan bahwa istilah preservasi berarti penanganan yang berhubungan langsung dengan benda, kerusakan oleh karena udara lembab, faktor kimiawi, serangan dari mikroorganisme yang harus dihentikan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut (Perpustakaan Nasional, 1995:2).
Menurut Hazen sebagaimana dikutip oleh Gardjito (1991:91), istilah pelestarian meliputi 3 ragam kegiatan, yaitu:
kegiatan-kegatan yang ditujukan untuk mengontrol lingkungan perpustakaan agar dapat memenuhi syarat-syarat pelestarian bahan-bahan pustaka yang tersimpan di dalamnya;
berbagai kegiatan yang berkaitan dengan usaha-usaha untuk memperpanjang umur bahan pustaka, misalnya dengan cara deasidifikasi, restorasi, atau penjilidan ulang; dan
seluruh kegiatan yang berkaitan dengan usaha untuk mengalihkan isi informasi dari satu bentuk format atau matrik ke bentuk lain. Setiap kegiatan menurut kategori-kategori tersebut itu tentu saja masih dapat dikembangkan lagi ke dalam berbagai aktivitas lain yang lebih khusus dan rinci.
Beberapa istilah terkait pelestarian menurut IFLA( International Federation of Library Association ) :
a) Pelestarian (preservation) IFLA ( International Federation of Library Association
Federasi Internasional dari Asosiasi-asosiasi Perpustakaan) mendefinisikan preservasi sebagai aspek-aspek yang mencakup usaha melestarikan bahan pustaka, keuangan, ketenagaan, metode, teknik, serta penyimpanannya. Adapun dalam kamus Inggris-Indonesia (John M.Echols & Hassan Sadily), preservasi berarti pemeliharaan, penjagaan dan pengawetan.
Sedangkan dalam buku the Principles for the Preservation and Conservation of Library Materials yang disusun oleh J.M. Dureau & D.W.G. Clements, preservasi mempunyai arti yang lebih luas, yaitu mencakup unsur-unsur pengelolaan, keuangan, cara penyimpanan, tenaga, teknik dan metoda untuk melestarikan informasi dan bentuk fisik bahan pustaka.
b) Pengawetan/Konservasi (conservation)
Kebijaksanaan dan cara khusus dalam melindungi bahan pustaka dan arsip untuk kelestarian koleksi BP (IFLA). Dalam kamus Inggris-Indonesia yang disusun oleh John M. Echols danHassan Sadily, konservasi berarti perlindungan dan pengawetan. Sedangkan menurut J.M. Dureau & D.W.G. Clements konservasi adalah teknik yang dipakai utnuk melindungi bahan pustaka dari kerusakan dan kehancuran.
Tujuan pelestarian bahan pustaka
Maksud pelestarian ialah mengusahakan agar bahan pustaka tidak cepat rusak, Sedangkan tujuan peletarian bahan pustaka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Menyelamatkan nilai informasi dokumen
2. Menyelamatkan fisik dokumen
3. Mengatasi kendala kekurangan ruang
4. Mempercepat perolehan informasi
Fungsi pelestarian bahan pustaka
Pelestarian memiliki fungsi sebagai berikut:
1. Fungsi melindungi, Bahan pustaka dilindungi dari serangan serangga, manusia, jamur, panas dan sebagainya
2. Fungsi pengawetan.Dengan dirawat baik-baik bahan pustaka menjadi awet,lebih lama dipakai dan lebih banyak pembaca menggunakan bahan pustaka tersebut
3. Fungsi kesehatan.Dengan pelestarian yang baik maka bahan pustaka menjadi bersih,bebas debu,jamur,hewan perusak dan berbagai penyakit,sehingga pembaca maupun pustakawan jadi tetap sehat.Pembaca lebih bergairah membaca dan memakai perpustakaan
4. Fungsi pendidikan.Mendidik pemakai serta pustakawan untuk berdisplin tinggi dan menghargai kebersihan
5. Fungsi kesabaran.Merawat bahan pustaka ibarat merawat bayi atau orang tua,jadi harus sabar,merawat bahan pustaka memerlukan kesabaran tingkat tinggi
6. Fungsi sosial.Pustakawan harus mengikutsertakan pembaca perpustakaan untuk tetap merawat bahan pustaka dan perpustakaan
7. Fungsi ekonomi.Dengan pelestarian yang baik bahan pustaka menjadi lebih awet,lebih hemat keuangan dan banyak aspek ekonomi lain yang berhubungan dengan pelestarian bahan pustaka
8. Fungsi keindahan.Dengan pelestarian yang baik,dan penataan bahan pustaka yang rapi perpustakaan menjadi lebih indah sehingga menambah daya tarik kepada pembacanya
Rabu, 18 April 2018
Nama : Siti mutmainnah
Nim : 1730403075
Kls : 17 pus B
PERINSIP-PERINSIP KEPUSTAKAWANAN
1. Perpustakaan Diciptakan Oleh Masyarakat
Sejak zaman dahulu hingga sekarang tujuan perpustakaan selalu identik dengan tujuan masyarakat. Perpustakaan diciptkaan manusia untuk agar manusia dapat menemukan kembali informasi dengan mudah. Hubungan yang erat anatra masyarakat dengan perpustakaan juga nampak pada gedung perpustakaan. Perpustakaan dianggap pranata penting seghingga orang-orang pada jaman dahulu selalu menempatkan perpustakaa dikuil, istana, biara, atau katedral serta tempat lain yang dianggap penting. Hal tersebut mencerminkan perpustakaan sebahai hasil karya cipta masyarakat.
2.Perpustakaan Dipelihara Masyarakat
Karena perpustakaan diciptakan masyarakat, masyarakat pun berusaha memelihara hasil karyanya. Dalam berbagai gejolak sosial dan revolusi, keberadaan perpustakaan selalu tidak dilupakan masyarakat. Oleh karena itu perpustakaan masih ada sampai sekarang.
3. Perpustakaan dimaksudkan untuk Menyimpan dan Memencarkan Ilmu Pengetahuan
perpustakaan adalah suatu tempat untuk menyimpan dan memencarkan ilmu pengetahuan. Perpustakaan diciptkaan manusia untuk agar manusia dapat menemukan kembali informasi dengan mudah.
4. Perpustakaan Merupakan Pusat Kekuatan
Perpustakaan merupakan pusat kekuatan. Artinya perpustakaan itu merupakan gudang ilmu pengetahuan,dan ilmu pengetahuan itu merupakan sebuah kekuatan.
5. Perpustakaan Terbuka Untuk Semua Orang
Perpustakaan terbuka untuk umum. Kenapa karena perpustakaan itu memperbolehkan semua masyarakat golongan baik perempuan,laki-laki,anak2,orang dewasa, atau siapapun.
6. Perpustakaan Harus Berkembang
Perpepustakaan harus berkembang. karena berkembangnya perpustakaan harus mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan.
7. Perpustakaan Nasional Harus Berisi Semua Literatur Nasional dari Negara yang Bersangkutan di Tambah Literatur Nasional Negara Lainnya yang Berkaitan
Literatur disini artinya buku dalam arti luas. perpustakaan mengumpulkan semua karya seperti tes keagamaan, doa, mantra, upacara, materi sejarah, pemerintahan, geografi, hukum, legenda, mitologi, astronomi, astrologi, biologi, matematika, kedokteran, sejarah alam, bahkan juga daftar pembayaran pajak! jadi, perpustakaan nasional mengumpulkan semua buku yang diterbitkan dinegara yang bersangkutan.
8. Setiap Buku Pasti Ada Manfaatnya
Jadi setiap buku pasti punya pembacanya nya masing-masing. bahwa sebuah buku, betapapun jelek isinya ataupun betapa banyaknya kritik yang dilontarkan terhadapnya, pada suatu saat buku tersebut akan dicari dan digunakan seorang pembaca. Dalam hal ini, perpustakaan Nasional berfungsi sebagai gudang ilmu pengetahuan, tidak saja menyimpan literatur monumental, tetapi juga menyimpan buku yang dianggap kurang penting (lazim disebut ephemera). Sebuah buku, apa pun isinya maupun kecilnya sumbangannya terhadap ilmu pengetahuan, merupakan bagian sejarah nasional karena itu sebagai dokumen sejarah, buku tersebut harus disimpan oleh perpustakaan nasional.
9. Seorang Pustakawan Haruslah Orang yang Berpendidikan
Adalah tugas seorang pustakawan untuk menambah koleksi perpustakaan, pustakawan harus tahu koleksi buku yang baik,tepat dan diminati pengguna, pustakawan juga harus bisa menyusun buku menurut aturan tertentu karena keunggulan koleksi akan sia-sia belaka bila tidak digunakan. Agar semua hal itu tersusun dengan rapi maka seorang pustakawan harus berpendidikan dalam menangani hal tersebut.
10. Seorang Pustakawan adalah Seorang Pendidik
Bila seorang pustakawan ingin memperoleh kemajuan dalam bidang tugasnya pustakawan harus bertindak selalu agen modernisasi dalam bidangnya. Pustakawan harus menjadikan perpustakaannya sebagai sarana belajar bagi pembacanya dengan kata lain, mengembangkan perpustakaan sebagai lembaga pendidikan non formal bagi masyarakat sekitarnya. Dengan tindakan demikian maka seorang pustakawan pada hakekatnya juga seorang pendidik. Karena sifatnya yang mendidik dan memberikan layanan kepada umum, seorang pustakawan tidak akan dapat menjadi kaya atau terkenal hanya dari perpustakaan maupun tugas kepustakawanannya.
11. Peranan Seorang Pustakawan akan Menjadi Penting bila Perannya Dipadukan dalam Sistem Sosial Politik yang Berlaku di Sekitarnya.
kegiatan perpustakaan di padukan degan sistem sosial politik sehingga perpustakaan mampu memberikan sumbagan ke semua sektor kehidupan. Dengan cara demikian, perpustakaan mempunyai daya tarik dan manfaat bagi masyarakat, terutama bagi anggota masyarakat yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal, bagi mereka yang terdidik dan setengah terdidik, serta anggota masyarakat yang telah meninggalkan bangku sekolah.
12. Untuk Menjadi Pustakawan Diperlukan Latihan dan Keahlian
syarat pustakawanan haruslah tamatan sekolah ahli menulis. Seusai pendidikan, sicalon pustakawan harus magang diperpustakaan selama beberapa tahun. Selama magang sicalon perpustakaan diwajibkan pula bahasa asing.
13. Adalah Tugas Pustakawan Untuk Menambah Koleksi Perpustakaan
Jadi adalah tugas seorang pustakawan untuk memeperbanyak koleksi buku diperpustakaan,agar semua orang yang bingin mencari informasi diperpustakaan tidak susah-susah.
14. Karena Perpustakaan Merupakan Gudang Ilmu Pengetahuan maka Koleksi Perpustakaan Harus Disusun Menurut Subjek
Prinsip ini nyata sekali pada klasifikasi koleksi perpustakaan modern seperti klasifikasidesimal dewey, library of congress maupun Universal Dicimal Classifikation. Semuanya disusun menurut subjek. Ketiga bagan klasifikasi tersebut banyak dipakai perpustakaan sudah tentu ada bagan klasifikasi lain serta dalam sejarah ada pula bagan klasifikasi sebelumnya. Misalnya pada perpustakaan Nineveh setiap ruangan disediakan untuk subjek tyertentu. Jadi, tersedia ruangan untuk menyimpan tanah liat berisi sejarah, mitologi, agama, dan sebagainya pada perpustakaan biara abad menengah koleksi buku sekuler dibagi menurut asas trivium (tata bahasa, logika, retorika) dan quadrium (aritmatika, geometrika, musik dan astronomi).
15. Kenyamanan Praktis Merupakan Faktor Utama yang Perlu Digunakan Dalam Penyusun Subjek Diperpustakaan
Pengerian kenyamanan fraktis artinya pengumpulan menurut subjek sehingga subjek yang berkaitan terkumpul menjadi satu susunan ataupun berurutan serta tidak tersebar diberbagai bidang. Misalnya buku tentang Teologi berdekatan dengan filsafat. Dengan cara demikian seorang pembaca yang ingin mengetahui buku tentang Teologi serta subjek yang berkaitan tidak perlu menelusuri kesubjek lain, Misalnya kesubjek pertanian atau bahasa.
16. Perpustakaan Harus Memiliki Katalog Subjek
katalog subjek setiap bagian memiliki judul singkat naskah yang disimpan dalam perpustakaan penyusunan katalog menurut nama pengarang atau abjat judul
Nim : 1730403075
Kls : 17 pus B
PERINSIP-PERINSIP KEPUSTAKAWANAN
1. Perpustakaan Diciptakan Oleh Masyarakat
Sejak zaman dahulu hingga sekarang tujuan perpustakaan selalu identik dengan tujuan masyarakat. Perpustakaan diciptkaan manusia untuk agar manusia dapat menemukan kembali informasi dengan mudah. Hubungan yang erat anatra masyarakat dengan perpustakaan juga nampak pada gedung perpustakaan. Perpustakaan dianggap pranata penting seghingga orang-orang pada jaman dahulu selalu menempatkan perpustakaa dikuil, istana, biara, atau katedral serta tempat lain yang dianggap penting. Hal tersebut mencerminkan perpustakaan sebahai hasil karya cipta masyarakat.
2.Perpustakaan Dipelihara Masyarakat
Karena perpustakaan diciptakan masyarakat, masyarakat pun berusaha memelihara hasil karyanya. Dalam berbagai gejolak sosial dan revolusi, keberadaan perpustakaan selalu tidak dilupakan masyarakat. Oleh karena itu perpustakaan masih ada sampai sekarang.
3. Perpustakaan dimaksudkan untuk Menyimpan dan Memencarkan Ilmu Pengetahuan
perpustakaan adalah suatu tempat untuk menyimpan dan memencarkan ilmu pengetahuan. Perpustakaan diciptkaan manusia untuk agar manusia dapat menemukan kembali informasi dengan mudah.
4. Perpustakaan Merupakan Pusat Kekuatan
Perpustakaan merupakan pusat kekuatan. Artinya perpustakaan itu merupakan gudang ilmu pengetahuan,dan ilmu pengetahuan itu merupakan sebuah kekuatan.
5. Perpustakaan Terbuka Untuk Semua Orang
Perpustakaan terbuka untuk umum. Kenapa karena perpustakaan itu memperbolehkan semua masyarakat golongan baik perempuan,laki-laki,anak2,orang dewasa, atau siapapun.
6. Perpustakaan Harus Berkembang
Perpepustakaan harus berkembang. karena berkembangnya perpustakaan harus mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan.
7. Perpustakaan Nasional Harus Berisi Semua Literatur Nasional dari Negara yang Bersangkutan di Tambah Literatur Nasional Negara Lainnya yang Berkaitan
Literatur disini artinya buku dalam arti luas. perpustakaan mengumpulkan semua karya seperti tes keagamaan, doa, mantra, upacara, materi sejarah, pemerintahan, geografi, hukum, legenda, mitologi, astronomi, astrologi, biologi, matematika, kedokteran, sejarah alam, bahkan juga daftar pembayaran pajak! jadi, perpustakaan nasional mengumpulkan semua buku yang diterbitkan dinegara yang bersangkutan.
8. Setiap Buku Pasti Ada Manfaatnya
Jadi setiap buku pasti punya pembacanya nya masing-masing. bahwa sebuah buku, betapapun jelek isinya ataupun betapa banyaknya kritik yang dilontarkan terhadapnya, pada suatu saat buku tersebut akan dicari dan digunakan seorang pembaca. Dalam hal ini, perpustakaan Nasional berfungsi sebagai gudang ilmu pengetahuan, tidak saja menyimpan literatur monumental, tetapi juga menyimpan buku yang dianggap kurang penting (lazim disebut ephemera). Sebuah buku, apa pun isinya maupun kecilnya sumbangannya terhadap ilmu pengetahuan, merupakan bagian sejarah nasional karena itu sebagai dokumen sejarah, buku tersebut harus disimpan oleh perpustakaan nasional.
9. Seorang Pustakawan Haruslah Orang yang Berpendidikan
Adalah tugas seorang pustakawan untuk menambah koleksi perpustakaan, pustakawan harus tahu koleksi buku yang baik,tepat dan diminati pengguna, pustakawan juga harus bisa menyusun buku menurut aturan tertentu karena keunggulan koleksi akan sia-sia belaka bila tidak digunakan. Agar semua hal itu tersusun dengan rapi maka seorang pustakawan harus berpendidikan dalam menangani hal tersebut.
10. Seorang Pustakawan adalah Seorang Pendidik
Bila seorang pustakawan ingin memperoleh kemajuan dalam bidang tugasnya pustakawan harus bertindak selalu agen modernisasi dalam bidangnya. Pustakawan harus menjadikan perpustakaannya sebagai sarana belajar bagi pembacanya dengan kata lain, mengembangkan perpustakaan sebagai lembaga pendidikan non formal bagi masyarakat sekitarnya. Dengan tindakan demikian maka seorang pustakawan pada hakekatnya juga seorang pendidik. Karena sifatnya yang mendidik dan memberikan layanan kepada umum, seorang pustakawan tidak akan dapat menjadi kaya atau terkenal hanya dari perpustakaan maupun tugas kepustakawanannya.
11. Peranan Seorang Pustakawan akan Menjadi Penting bila Perannya Dipadukan dalam Sistem Sosial Politik yang Berlaku di Sekitarnya.
kegiatan perpustakaan di padukan degan sistem sosial politik sehingga perpustakaan mampu memberikan sumbagan ke semua sektor kehidupan. Dengan cara demikian, perpustakaan mempunyai daya tarik dan manfaat bagi masyarakat, terutama bagi anggota masyarakat yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal, bagi mereka yang terdidik dan setengah terdidik, serta anggota masyarakat yang telah meninggalkan bangku sekolah.
12. Untuk Menjadi Pustakawan Diperlukan Latihan dan Keahlian
syarat pustakawanan haruslah tamatan sekolah ahli menulis. Seusai pendidikan, sicalon pustakawan harus magang diperpustakaan selama beberapa tahun. Selama magang sicalon perpustakaan diwajibkan pula bahasa asing.
13. Adalah Tugas Pustakawan Untuk Menambah Koleksi Perpustakaan
Jadi adalah tugas seorang pustakawan untuk memeperbanyak koleksi buku diperpustakaan,agar semua orang yang bingin mencari informasi diperpustakaan tidak susah-susah.
14. Karena Perpustakaan Merupakan Gudang Ilmu Pengetahuan maka Koleksi Perpustakaan Harus Disusun Menurut Subjek
Prinsip ini nyata sekali pada klasifikasi koleksi perpustakaan modern seperti klasifikasidesimal dewey, library of congress maupun Universal Dicimal Classifikation. Semuanya disusun menurut subjek. Ketiga bagan klasifikasi tersebut banyak dipakai perpustakaan sudah tentu ada bagan klasifikasi lain serta dalam sejarah ada pula bagan klasifikasi sebelumnya. Misalnya pada perpustakaan Nineveh setiap ruangan disediakan untuk subjek tyertentu. Jadi, tersedia ruangan untuk menyimpan tanah liat berisi sejarah, mitologi, agama, dan sebagainya pada perpustakaan biara abad menengah koleksi buku sekuler dibagi menurut asas trivium (tata bahasa, logika, retorika) dan quadrium (aritmatika, geometrika, musik dan astronomi).
15. Kenyamanan Praktis Merupakan Faktor Utama yang Perlu Digunakan Dalam Penyusun Subjek Diperpustakaan
Pengerian kenyamanan fraktis artinya pengumpulan menurut subjek sehingga subjek yang berkaitan terkumpul menjadi satu susunan ataupun berurutan serta tidak tersebar diberbagai bidang. Misalnya buku tentang Teologi berdekatan dengan filsafat. Dengan cara demikian seorang pembaca yang ingin mengetahui buku tentang Teologi serta subjek yang berkaitan tidak perlu menelusuri kesubjek lain, Misalnya kesubjek pertanian atau bahasa.
16. Perpustakaan Harus Memiliki Katalog Subjek
katalog subjek setiap bagian memiliki judul singkat naskah yang disimpan dalam perpustakaan penyusunan katalog menurut nama pengarang atau abjat judul
Selasa, 03 April 2018
Tokoh ilmu perpustakaan
Nama : Siti Mutmainnah
Nim : 1730403075
Kelas : 17 PUS B
Makul : pengantar ilmu perpustakaan
Dosen : Rusmiatiningsih,S.Hum.,M
Link :https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=944220296604260175#editor/target=post;postID=4453904364663919646
Tokoh Ilmu Perpustakaan Dan Teorinya
Blasius Sudarsono
Adalah tokoh pustakawan yang ada di Indonesia beliau mempunyai sebuah pandangan baru mengenai kepustakawanan di Indonesia, beliau menggunakan pendekatan melalui perspektif filsafat kepustakawanan, yang belum pernah ada di Indonesia. Kontribusi pemikiran Blasius Sudarsono untuk perpustakaan dan pustakawan pada saat ini adalah filsafat kepustakawanan.
Kepustakawanan Indonesia menurut Blasius sudarsono dimaksud sebagai ilmu perpustakaan dan seni menerapkannya di Indonesia. Bagi beliau harus ada pembeda antara Library science yang mungkin bersifat universal dan Indonesia Librarianship yang harus berakar dan bercirikan khas nya Indonesia.
G. Edward Evans
Evans adalah salah satu Tokoh pustakawan internasional menurut beliau mendefinisikan pengembangan koleksi sebagai proses untuk mengidentifikasi kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan bahan pustaka dalam hal kebutuhan pengguna dan sumber daya komunitas serta mencoba mengoreksi jika ada kekurangan yang muncul.
Evans juga mengemukakan bahwa pengembangan koleksi adalah proses memenuhi kebutuhan informasi masyarakat yang dilayani dan cara ekonomis menggunakan sumber daya informasi.
Nim : 1730403075
Kelas : 17 PUS B
Makul : pengantar ilmu perpustakaan
Dosen : Rusmiatiningsih,S.Hum.,M
Link :https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=944220296604260175#editor/target=post;postID=4453904364663919646
Tokoh Ilmu Perpustakaan Dan Teorinya
Blasius Sudarsono
Adalah tokoh pustakawan yang ada di Indonesia beliau mempunyai sebuah pandangan baru mengenai kepustakawanan di Indonesia, beliau menggunakan pendekatan melalui perspektif filsafat kepustakawanan, yang belum pernah ada di Indonesia. Kontribusi pemikiran Blasius Sudarsono untuk perpustakaan dan pustakawan pada saat ini adalah filsafat kepustakawanan.
Kepustakawanan Indonesia menurut Blasius sudarsono dimaksud sebagai ilmu perpustakaan dan seni menerapkannya di Indonesia. Bagi beliau harus ada pembeda antara Library science yang mungkin bersifat universal dan Indonesia Librarianship yang harus berakar dan bercirikan khas nya Indonesia.
G. Edward Evans
Evans adalah salah satu Tokoh pustakawan internasional menurut beliau mendefinisikan pengembangan koleksi sebagai proses untuk mengidentifikasi kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan bahan pustaka dalam hal kebutuhan pengguna dan sumber daya komunitas serta mencoba mengoreksi jika ada kekurangan yang muncul.
Evans juga mengemukakan bahwa pengembangan koleksi adalah proses memenuhi kebutuhan informasi masyarakat yang dilayani dan cara ekonomis menggunakan sumber daya informasi.
Jumat, 23 Maret 2018
Sejarah perpustakaan
Nama : Siti mutmainnah
Nim : 1730403075
Kelas : 17PusB
Makul: Pengantar ilmu perpustakaan
Dosen: Rusmiatiningsi,S.Hum.,M
Link :
https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=944220296604260175#editor/src=sidebar
SEJARAH PERPUSTAKAAN DUNIA
Bibliotheca Alexandrina Egypt (Perpustakaan Iskandariah Mesir) merupakan perpustakaan pertama dan terbesar di dunia. Perpustakaan ini bahkan bertahan selama berabadabad dan memiliki koleksi 700.000 gulungan papyrus, bahkan jika di bandingkan dengan Perpustakaan Sorbonne di abad ke-14 ‘hanya’ memiliki koleksi 1700 buku.
Perpustakaan ini di dirikan oleh Ptolemi I sang penerus Alexander(Iskandariah) pada tahun 323 SM, dan terus berlanjut sampai kekuasaan Ptolemi III. Pada waktu itu para penguasa Mesir begitu besemangat memajukan Perpustakaan dan Ilmu Pengetahuan mereka, bahkan dalam Manuskrip Roma mengatakan bahwa sang Raja mesir membelanjakan harta kerajaan untuk membeli buku dari seluruh pelosok negeri hingga terkumpul 442.800 buku dan 90.000 lainnya berbentuk ringkasan tak berjilid. Ia juga memerintahkan prajurit untuk menggeledah setiap kapal yang masuk guna memperoleh naskah. Jika ada naskah yang ditemukan, mereka menyimpan yang asli dan mengembalikan salinannya. Menurut beberapa sumber, ketika Athena meminjamkan naskah-naskah drama klasik Yunani asli yang tak ternilai kepada Ptolemeus III, ia berjanji membayar uang jaminan dan menyalinnya. Tetapi sang raja malah menyimpan yang asli, tidak mengambil kembali uang jaminan itu, dan memulangkan salinannya.
Namun cerita keemasan ini hanya menjadi sejarah. Ialah ketuka penaklukan bangsa Romawi yang di pimpin oleh Julius Caesar pada tahun 48 SM. Bangsa Romawi membakar 400.000 buku musnah menjadi abu using yang tak berguna. Dunia ilmu saat itu sangat berduka karena telah kehilangan salah satu sumber ilmu pengetahuan terbaik saat itu. Namun akhirnya sang Kaisar, Julius Caesar meminta -maaf, dan sebagai gantinya ia mengirim Marx Antonio untuk menghadiahkan 200.000 buku dari Roma kepada Ratu mesir saat itu, Cleopatra, dan dari inilah kisah mereka berlanjut.
Namun perpustakaan megah yang ada di mesir tersebut tak pernah kembali seperti masa-masa keemasanya. Sejak pembakaran tersebut, Perpustakaan Iskadariah solah tak terurus. Bahkan hampir menjadi artefak-artefak kuno saja. Akan tetapi, UNESCO memprakarsai untuk bekerja sama dengan pemerintah Mesir,membangun kembali perpustakaan dengan sejarah terbesar dalam sejarah tersebut. Dan pembangunan ini di mulai sejak tahun 1990-an. Pembangunan ini menghabiskan dana tak kurang dari US$ 220 juta. US 120 juta di tanggung pemerintah Mesir dan sisanya di tanggung dari bantuan Internasional dari Negara-negara lain. Akhirnya setelah terbengkalai hampir selama 20 Abad, Perpustakaan Iskandriah (Bibliotheca Alexandrina) berdiri megah dan unik. Bangunan utama berbentuk bulat beratap miring, terbenam dalam tanah. Di bagian depan sejajar atap, dibuat kolam untuk menetralkan suhu pustaka, terdiri lima lantai di dalam tanah, perpustakaan ini dapat memuat sekitar 8 juta buku.
Namun yang ada saat ini baru 250.000 buku dan akan terus bertambah tiap tahun. Selain itu juga menyediakan berbagai fasilitas, seperti 500 unit komputer berbahasa Arab dan Inggris untuk memudahkan pengunjung mencari katalog buku, ruang baca berkapasitas 1.700 orang, conference room, ruang pustaka Braille Taha Husein khusus tuna netra, pustaka anak-anak, museum manuskrip kuno, lima lembaga riset, dan kamar-kamar riset yang bisa dipakai gratis. Dan yang juga menarik,adalah lantai tengah perpustakaan tersebut terdapat Gallery Design dan bisa dilihat dari berbagai sisi. Di lantai kayu yang cukup luas itu terpajang berbagai prototype mesin cetak kuno dan berbagai lukisan dinding. Perpustakaan ini selalu dipenuhi pengunjung, padahal di Alexandria tidak banyak universitas seperti di Kairo. Ini menunjukkan tingginya minat baca masyarakat Mesir dan perpustakaan yang dulu dihancurkan Julius Caesar itu kini menjadi salah satu objek wisata sebagaimana Piramid Giza, Mumi, Karnax Temple, Kuburan para Firaun di Luxor atau Museum Kairo yang menyimpan timbunan emas Tutankhamun.
Isi di perpustakaan tersebut mengandung:
· Sebuah Perpustakaan yang dapat menampung jutaan buku.
· Sebuah Arsip Internet
· Enam khusus perpustakaan untuk
1. Seni, multimedia dan bahan-bahan audio-visual,
2. Tunanetra
3. Anak-anak
4. Kaum muda
5. Microforms, dan
6. Buku langka dan koleksi khusus
· Empat Museum untuk
1. Antiquities
2. Naskah
3. Sadat dan
4. Sejarah Sains
· Planetarium A
· Sebuah Exploratorium untuk eksposur anak terhadap ilmu (ALEXploratorium)
· Culturama: panorama budaya lebih dari sembilan layar, yang pertama kalinya dipatenkan 9 proyektor sistem interaktif. Pemenang banyak penghargaan, yang Culturama, dikembangkan oleh CULTNAT, memungkinkan penyajian banyak lapisan data, dimana presenter dapat klik pada item dan pergi ke tingkat baru detail. Ini adalah presentasi multi-media sangat informatif dan menarik warisan di Mesir 5.000 tahun sejarah untuk zaman modern, dengan highlights dan contoh-contoh dan Koptik Mesir Kuno / warisan Islam.
· VISTA (The Virtual Immersive Sains dan Teknologi Aplikasi sistem) adalah sebuah lingkungan Virtual Reality interaktif, yang memungkinkan peneliti untuk mengubah data set ke dalam dua-dimensi simulasi 3-D, dan ke langkah di dalamnya. Sebuah alat praktis visualisasi selama penelitian, VISTA membantu peneliti untuk mensimulasikan perilaku sistem alam atau manusia-rekayasa, bukan hanya mengamati sistem atau membangun model fisik.
· Delapan pusat penelitian akademik:
1. Alexandria dan Pusat Penelitian Mediterania (Alex-Med),
2. Arts Center,
3. Kaligrafi Pusat,
5. Pusat Studi Khusus dan Program (CSSP),
6. Sekolah Internasional Studi Informasi (ISIS),
7. Naskah Pusat,
8. Pusat Dokumentasi Budaya dan Warisan Alam (CultNat, terletak di Kairo), dan
9. Alexandria Pusat Studi Helenistik.
· Lima belas pameran tetap meliputi
1. Tayangan dari Aleksandria: Koleksi Awad,
2. Dunia Shadi Abdel Salam,
3. Arabic Kaligrafi,
4. Sejarah Percetakan,
5. Arab-Muslim Abad Pertengahan Instrumen Astronomi dan Sains (Penunggang Star), dan
6. Pameran Tetap Seleksi Seni Kontemporer Mesir:
7. Para Artis Buku,
8. Mohie El Din Hussein: A Journey Kreatif,
9. Abdel Salam Idul Fitri,
10. The Raaya El-Nimr dan Abdel-Ghani Abou El-Enein Koleksi Seni Rakyat Arab,
11. Seif dan lemah Adham: Motion dan Seni,
12. Dipilih Artworks dari Henin Adam,
13. Dipilih Artworks Ahmed-Abdel Wahab,
14. Artworks Terpilih Hamed Saeed,
15. Dipilih Artworks dari Soliman Hassan, dan
16. Sculpture.
· Empat seni galeri untuk pameran temporer
· Sebuah Pusat Konferensi untuk ribuan orang
· Sebuah Forum Dialog yang memberikan kesempatan untuk pertemuan, dan diskusi dengan para pemikir, penulis dan penulis untuk membahas berbagai isu penting yang mempengaruhi masyarakat modern. Forum Reformasi Arab adalah hasil dari Konferensi Reformasi Arab pertama diselenggarakan pada tahun 2004
Sejarah Perpustakaan di Indonesia
Sejarah perpustakaan di Indonesia tergolong masih muda jika dibandingkan dengan negara Eropa dan Arab. Jika kita mengambil pendapat bahwa sejarah perpustakaan ditandai dengan dikenalnya tulisan, maka sejarah perpustakaan di Indonesia dapat dimulai pada tahun 400-an yaitu saat lingga batu dengan tulisan Pallawa ditemukan dari periode Kerajaan Kutai. Musafir Fa-Hsien dari tahun 414M menyatakan bahwa di kerajaan Ye-po-ti, yang sebenarnya kerajaan Tarumanegara banyak dijumpai kaum Brahmana yang tentunya memerlukan buku atau manuskrip keagamaan yang mungkin disimpan di kediaman pendeta.
Pada sekitar tahun 695 M,, di Ibukota Kerajaan Sriwijaya hidup lebih dari 1000 orang biksu dengan tugas keagamaan dan mempelajari agama Budha melalui berbagai buku yang tentu saja disimpan di berbagai biasa.Di pulau Jawa, sejarah perpustakaan tersebut dimulai pada masa Kerajaan Mataram. Hal ini karena di kerajaan ini mulai dikenal pujangga keraton yang menulis berbagai karya sastra. Karya-karya tersebut seperti Sang Hyang Kamahayanikan yang memuat uraian tentang agama Budha Mahayana. Menyusul kemudian sembilan parwasari cerita Mahabharata dan satu kanda dari epos Ramayana. Juga muncul dua kitab keagamaan yaitu Brahmandapurana dan Agastyaparwa. Kitab lain yang terkenal adalah Arjuna Wiwaha yang digubah oleh Mpu Kanwa. Dari uraian tersebut nyatabahwa sudah ada naskah yang ditulis tangan dalam media daun lontar yang diperuntukkan bagi pembaca kalangan sangat khusus yaitu kerajaan. Jaman Kerajaan Kediri dikenal beberapa pujangga dengan karya sastranya. Mereka itu adalah Mpu Sedah dan Mpu Panuluh yang bersama-sama menggubah kitab Bharatayudha. Selain itu Mpu panuluh juga menggubah kitab Hariwangsa dan kitab Gatotkacasrayya. Selain itu ada Mpu Monaguna dengan kitab Sumanasantaka dan Mpu Triguna dengan kitam resnayana. Semua kitab itu ditulis diatas daun lontar dengan jumlah yang sangat terbatas dan tetap berada dalam lingkungan keraton.
Periode berikutnya adalah Kerajaan Singosari. Pada periode ini tidak dihasilkan naskah terkenal. Kitab Pararaton yang terkenal itu diduga ditulis setelah keruntuhan kerajaan Singosari. Pada jaman Majapahit dihasilkan dihasilkan buku Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca. Sedangkan Mpu Tantular menulis buku Sutasoma.
Pada Kegiatan penulisan dan penyimpanan naskah masih terus dilanjutkan oleh para raja dan sultan yang tersebar di Nusantara. Misalnya, jaman kerajaan Demak, Banten, Mataram, Surakarta Pakualaman, Mangkunegoro, Cirebon, Demak, Banten, Melayu, Jambi, Mempawah, Makassar, Maluku, dan Sumbawa. Dari Cerebon diketahui dihasilkan puluhan buku yang ditulis sekitar abad ke-16 dan ke-17. . Perpustakaan mulai didirikan mula-mula ntuk tujuan menunjang program penyebaran agama mereka. Berdasarkan sumber sekunder perpustakaan paling awal berdiri pada masa ini adalah pada masa VOC (Vereenigde OostJurnal Pustakawan Indonesia volume 6 nomor 160 Indische Compaqnie) yaitu perpustakaan gereja di Batavia (kini Jakarta) yang dibangun sejak 1624. pada abad ke-17 Indonesia sudah mengenal perluasan jasa perpustakaan (kini layanan seperti ini disebut dengan pinjam antar perpustakaan atau interlibrary loan).
Lebih dari seratus tahun kemudian berdiri perpustakaan khusus di Batavia. Pada tanggal 25 April 1778 berdiri Bataviaasche Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BGKW) di Batavia. Bersamaan dengan berdirinya lembaga tersebut berdiri pula perpustakaan lembaga BGKW. Pendirian perpustakaan lembaga BGKW tersebut diprakarsai oleh Mr. J.C.M. Rademaker, ketua Raad van Indie (Dewan Hindia Belanda). Ia memprakarsai pengumpulan buku dan manuskrip untuk koleksi perpustakaannya. Perpustakaan ini kemudian mengeluarkan katalog buku yang pertama di
Indonesia.
Pada tahun 1962 Lembaga Kebudayaan Indonesia diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia dan namanyapun diubah menjadi Museum Pusat. Koleksi perpustakaannya menjadi bagian dari Museum Pusat dan dikenal dengan Perpustakaan Museum Pusat. Nama Museum Pusat ini kemudian berubah lagi menjadi Museum Nasional, sedangkan perpustakaannya dikenal dengan Perpustakaan Museum Nasional. Pada tahun 1980 Perpustakaan Museum Nasional dilebur ke Pusat Pembinaan Perpustakaan. Perubahan terjadi lagi pada tahun 1989 ketika Pusat Pembinaan Perpustakaan dilebur sebagai bagian dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Perkembangan Perpustakaan Perguruan Tinggi di Indonesia dimulai pada awal tahun 1920an. Mengikuti berdirinya sekolah tinggi, misalnya seperti Geneeskunde Hoogeschool di Batavia (1927) dan kemudian juga di Surabaya dengan STOVIA; Technische Hoogescholl di Bandung (1920), Fakultait van Landbouwwentenschap (er Wijsgebeerte Bitenzorg, 1941), Rechtshoogeschool di Batavia (1924), dan Fakulteit van Letterkunde di Batavia (1940). Setiap sekolah tinggi atau fakultas itu mempunyai perpustakaan yang terpisah satu sama lain.
Di samping perpustakaan yang didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda, sebenarnya tercatat juga perpustakaan yang didirikan oleh orang Indonesia. Pihak Keraton Mangkunegoro mendirikan perpustakaan keraton sedangkan keraton Yogyakarta mendirikan Radyo Pustoko. Sebagian besar koleksinya adalah naskah kuno. Koleksi perpustakaan ini tidak dipinjamkan, namun boleh dibaca di tempat. Pada masa penjajahan Jepang hampir tidak ada perkembangan perpustakaan yang berarti. Jepang hanya mengamankan beberapa gedung penting, di antaranya Bataviaasch Genootschap van Kunten Weetenschappen. Selama pendudukan Jepang openbareleeszalen ditutup. Volkbibliotheek dijarah oleh rakyat dan lenyap dari permukaan bumi. Karena pengamanan yang kuat pada gedung Bataviaasch Genootschap van Kunten Jurnal Pustakawan Indonesia volume 6 nomor 162 Weetenschappen, maka koleksi perpustakaan ini dapat dipertahankan, dan merupakan cikal bakal dari Perpustakaan Nasional.
Perkembangan pasca kemerdekaan mungkin dapat dimulai dari tahun 1950an yang ditandai dengan berdirinya perpustakaan baru. Pada tanggal 25 Agustus 1950 berdiriperpustakaan Yayasan Bung Hatta dengan koleksi yang menitikberatkan kepada pengelolaan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Indonesia. Tanggal 7 Juni 1952 perpustakaan Stichting voor culturele Samenwerking, suatu badan kerjasama kebudayaan antara pemerintah RI dengan pemerintah Negeri Belanda, diserahkan kepada pemerintah RI. Kemudian oleh Pemerintah RI diubah menjadi Perpustakaan Sejarah Politik dan Sosial Departemen P & K.
Dalam rangka usaha melakukan pemberantasan buta huruf di seluruh pelosok tanah air, telah didirikan Perpustakaan Rakyat yang bertugas membantu usaha Jawatan Pendidikan Masyarakat melakukan usaha pemberantasan buta huruf tersebut. Pada periode ini juga lahir Perpustakaan Negara yang berfungsi sebagaiperpustakaan umum dan didirikan di ibukota provinsi. Perpustakaan Negara yang pertama didirikan di Yogyakarta pada tahun 1949, kemudian disusul Ambon (1952); Bandung (1953); Ujung Pandang (Makassar) (1954); Padang (1956); Palembang (1957); Jakarta (1958); Palangkaraya, Singaraja, Mataram, Medan, Pekanbaru dan Surabaya (1959). Setelah itu menyusul kemudian Perpustakaan Nagara di Banjarmasin (1960); Manado (1961); Kupang dan Samarinda (1964). Perpustakaan Negara ini dikembangkan secara lintas instansional oleh tiga instansi, yaitu Biro Perpustakaan Departemen P & K yang membina secara teknis, Perwakilan Departemen P & K yang membina secara administratif, dan pemerintah daerah tingkat provinsi yang memberikan fasilitas
Bibliotheca Alexandrina Egypt (Perpustakaan Iskandariah Mesir) merupakan perpustakaan pertama dan terbesar di dunia. Perpustakaan ini bahkan bertahan selama berabadabad dan memiliki koleksi 700.000 gulungan papyrus, bahkan jika di bandingkan dengan Perpustakaan Sorbonne di abad ke-14 ‘hanya’ memiliki koleksi 1700 buku.
Perpustakaan ini di dirikan oleh Ptolemi I sang penerus Alexander(Iskandariah) pada tahun 323 SM, dan terus berlanjut sampai kekuasaan Ptolemi III. Pada waktu itu para penguasa Mesir begitu besemangat memajukan Perpustakaan dan Ilmu Pengetahuan mereka, bahkan dalam Manuskrip Roma mengatakan bahwa sang Raja mesir membelanjakan harta kerajaan untuk membeli buku dari seluruh pelosok negeri hingga terkumpul 442.800 buku dan 90.000 lainnya berbentuk ringkasan tak berjilid. Ia juga memerintahkan prajurit untuk menggeledah setiap kapal yang masuk guna memperoleh naskah. Jika ada naskah yang ditemukan, mereka menyimpan yang asli dan mengembalikan salinannya. Menurut beberapa sumber, ketika Athena meminjamkan naskah-naskah drama klasik Yunani asli yang tak ternilai kepada Ptolemeus III, ia berjanji membayar uang jaminan dan menyalinnya. Tetapi sang raja malah menyimpan yang asli, tidak mengambil kembali uang jaminan itu, dan memulangkan salinannya.
Namun cerita keemasan ini hanya menjadi sejarah. Ialah ketuka penaklukan bangsa Romawi yang di pimpin oleh Julius Caesar pada tahun 48 SM. Bangsa Romawi membakar 400.000 buku musnah menjadi abu using yang tak berguna. Dunia ilmu saat itu sangat berduka karena telah kehilangan salah satu sumber ilmu pengetahuan terbaik saat itu. Namun akhirnya sang Kaisar, Julius Caesar meminta -maaf, dan sebagai gantinya ia mengirim Marx Antonio untuk menghadiahkan 200.000 buku dari Roma kepada Ratu mesir saat itu, Cleopatra, dan dari inilah kisah mereka berlanjut.
Namun perpustakaan megah yang ada di mesir tersebut tak pernah kembali seperti masa-masa keemasanya. Sejak pembakaran tersebut, Perpustakaan Iskadariah solah tak terurus. Bahkan hampir menjadi artefak-artefak kuno saja. Akan tetapi, UNESCO memprakarsai untuk bekerja sama dengan pemerintah Mesir,membangun kembali perpustakaan dengan sejarah terbesar dalam sejarah tersebut. Dan pembangunan ini di mulai sejak tahun 1990-an. Pembangunan ini menghabiskan dana tak kurang dari US$ 220 juta. US 120 juta di tanggung pemerintah Mesir dan sisanya di tanggung dari bantuan Internasional dari Negara-negara lain. Akhirnya setelah terbengkalai hampir selama 20 Abad, Perpustakaan Iskandriah (Bibliotheca Alexandrina) berdiri megah dan unik. Bangunan utama berbentuk bulat beratap miring, terbenam dalam tanah. Di bagian depan sejajar atap, dibuat kolam untuk menetralkan suhu pustaka, terdiri lima lantai di dalam tanah, perpustakaan ini dapat memuat sekitar 8 juta buku.
Namun yang ada saat ini baru 250.000 buku dan akan terus bertambah tiap tahun. Selain itu juga menyediakan berbagai fasilitas, seperti 500 unit komputer berbahasa Arab dan Inggris untuk memudahkan pengunjung mencari katalog buku, ruang baca berkapasitas 1.700 orang, conference room, ruang pustaka Braille Taha Husein khusus tuna netra, pustaka anak-anak, museum manuskrip kuno, lima lembaga riset, dan kamar-kamar riset yang bisa dipakai gratis. Dan yang juga menarik,adalah lantai tengah perpustakaan tersebut terdapat Gallery Design dan bisa dilihat dari berbagai sisi. Di lantai kayu yang cukup luas itu terpajang berbagai prototype mesin cetak kuno dan berbagai lukisan dinding. Perpustakaan ini selalu dipenuhi pengunjung, padahal di Alexandria tidak banyak universitas seperti di Kairo. Ini menunjukkan tingginya minat baca masyarakat Mesir dan perpustakaan yang dulu dihancurkan Julius Caesar itu kini menjadi salah satu objek wisata sebagaimana Piramid Giza, Mumi, Karnax Temple, Kuburan para Firaun di Luxor atau Museum Kairo yang menyimpan timbunan emas Tutankhamun.
Isi di perpustakaan tersebut mengandung:
· Sebuah Perpustakaan yang dapat menampung jutaan buku.
· Sebuah Arsip Internet
· Enam khusus perpustakaan untuk
1. Seni, multimedia dan bahan-bahan audio-visual,
2. Tunanetra
3. Anak-anak
4. Kaum muda
5. Microforms, dan
6. Buku langka dan koleksi khusus
· Empat Museum untuk
1. Antiquities
2. Naskah
3. Sadat dan
4. Sejarah Sains
· Planetarium A
· Sebuah Exploratorium untuk eksposur anak terhadap ilmu (ALEXploratorium)
· Culturama: panorama budaya lebih dari sembilan layar, yang pertama kalinya dipatenkan 9 proyektor sistem interaktif. Pemenang banyak penghargaan, yang Culturama, dikembangkan oleh CULTNAT, memungkinkan penyajian banyak lapisan data, dimana presenter dapat klik pada item dan pergi ke tingkat baru detail. Ini adalah presentasi multi-media sangat informatif dan menarik warisan di Mesir 5.000 tahun sejarah untuk zaman modern, dengan highlights dan contoh-contoh dan Koptik Mesir Kuno / warisan Islam.
· VISTA (The Virtual Immersive Sains dan Teknologi Aplikasi sistem) adalah sebuah lingkungan Virtual Reality interaktif, yang memungkinkan peneliti untuk mengubah data set ke dalam dua-dimensi simulasi 3-D, dan ke langkah di dalamnya. Sebuah alat praktis visualisasi selama penelitian, VISTA membantu peneliti untuk mensimulasikan perilaku sistem alam atau manusia-rekayasa, bukan hanya mengamati sistem atau membangun model fisik.
· Delapan pusat penelitian akademik:
1. Alexandria dan Pusat Penelitian Mediterania (Alex-Med),
2. Arts Center,
3. Kaligrafi Pusat,
5. Pusat Studi Khusus dan Program (CSSP),
6. Sekolah Internasional Studi Informasi (ISIS),
7. Naskah Pusat,
8. Pusat Dokumentasi Budaya dan Warisan Alam (CultNat, terletak di Kairo), dan
9. Alexandria Pusat Studi Helenistik.
· Lima belas pameran tetap meliputi
1. Tayangan dari Aleksandria: Koleksi Awad,
2. Dunia Shadi Abdel Salam,
3. Arabic Kaligrafi,
4. Sejarah Percetakan,
5. Arab-Muslim Abad Pertengahan Instrumen Astronomi dan Sains (Penunggang Star), dan
6. Pameran Tetap Seleksi Seni Kontemporer Mesir:
7. Para Artis Buku,
8. Mohie El Din Hussein: A Journey Kreatif,
9. Abdel Salam Idul Fitri,
10. The Raaya El-Nimr dan Abdel-Ghani Abou El-Enein Koleksi Seni Rakyat Arab,
11. Seif dan lemah Adham: Motion dan Seni,
12. Dipilih Artworks dari Henin Adam,
13. Dipilih Artworks Ahmed-Abdel Wahab,
14. Artworks Terpilih Hamed Saeed,
15. Dipilih Artworks dari Soliman Hassan, dan
16. Sculpture.
· Empat seni galeri untuk pameran temporer
· Sebuah Pusat Konferensi untuk ribuan orang
· Sebuah Forum Dialog yang memberikan kesempatan untuk pertemuan, dan diskusi dengan para pemikir, penulis dan penulis untuk membahas berbagai isu penting yang mempengaruhi masyarakat modern. Forum Reformasi Arab adalah hasil dari Konferensi Reformasi Arab pertama diselenggarakan pada tahun 2004
Sejarah Perpustakaan di Indonesia
Sejarah perpustakaan di Indonesia tergolong masih muda jika dibandingkan dengan negara Eropa dan Arab. Jika kita mengambil pendapat bahwa sejarah perpustakaan ditandai dengan dikenalnya tulisan, maka sejarah perpustakaan di Indonesia dapat dimulai pada tahun 400-an yaitu saat lingga batu dengan tulisan Pallawa ditemukan dari periode Kerajaan Kutai. Musafir Fa-Hsien dari tahun 414M menyatakan bahwa di kerajaan Ye-po-ti, yang sebenarnya kerajaan Tarumanegara banyak dijumpai kaum Brahmana yang tentunya memerlukan buku atau manuskrip keagamaan yang mungkin disimpan di kediaman pendeta.
Pada sekitar tahun 695 M,, di Ibukota Kerajaan Sriwijaya hidup lebih dari 1000 orang biksu dengan tugas keagamaan dan mempelajari agama Budha melalui berbagai buku yang tentu saja disimpan di berbagai biasa.Di pulau Jawa, sejarah perpustakaan tersebut dimulai pada masa Kerajaan Mataram. Hal ini karena di kerajaan ini mulai dikenal pujangga keraton yang menulis berbagai karya sastra. Karya-karya tersebut seperti Sang Hyang Kamahayanikan yang memuat uraian tentang agama Budha Mahayana. Menyusul kemudian sembilan parwasari cerita Mahabharata dan satu kanda dari epos Ramayana. Juga muncul dua kitab keagamaan yaitu Brahmandapurana dan Agastyaparwa. Kitab lain yang terkenal adalah Arjuna Wiwaha yang digubah oleh Mpu Kanwa. Dari uraian tersebut nyatabahwa sudah ada naskah yang ditulis tangan dalam media daun lontar yang diperuntukkan bagi pembaca kalangan sangat khusus yaitu kerajaan. Jaman Kerajaan Kediri dikenal beberapa pujangga dengan karya sastranya. Mereka itu adalah Mpu Sedah dan Mpu Panuluh yang bersama-sama menggubah kitab Bharatayudha. Selain itu Mpu panuluh juga menggubah kitab Hariwangsa dan kitab Gatotkacasrayya. Selain itu ada Mpu Monaguna dengan kitab Sumanasantaka dan Mpu Triguna dengan kitam resnayana. Semua kitab itu ditulis diatas daun lontar dengan jumlah yang sangat terbatas dan tetap berada dalam lingkungan keraton.
Periode berikutnya adalah Kerajaan Singosari. Pada periode ini tidak dihasilkan naskah terkenal. Kitab Pararaton yang terkenal itu diduga ditulis setelah keruntuhan kerajaan Singosari. Pada jaman Majapahit dihasilkan dihasilkan buku Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca. Sedangkan Mpu Tantular menulis buku Sutasoma.
Pada Kegiatan penulisan dan penyimpanan naskah masih terus dilanjutkan oleh para raja dan sultan yang tersebar di Nusantara. Misalnya, jaman kerajaan Demak, Banten, Mataram, Surakarta Pakualaman, Mangkunegoro, Cirebon, Demak, Banten, Melayu, Jambi, Mempawah, Makassar, Maluku, dan Sumbawa. Dari Cerebon diketahui dihasilkan puluhan buku yang ditulis sekitar abad ke-16 dan ke-17. . Perpustakaan mulai didirikan mula-mula ntuk tujuan menunjang program penyebaran agama mereka. Berdasarkan sumber sekunder perpustakaan paling awal berdiri pada masa ini adalah pada masa VOC (Vereenigde OostJurnal Pustakawan Indonesia volume 6 nomor 160 Indische Compaqnie) yaitu perpustakaan gereja di Batavia (kini Jakarta) yang dibangun sejak 1624. pada abad ke-17 Indonesia sudah mengenal perluasan jasa perpustakaan (kini layanan seperti ini disebut dengan pinjam antar perpustakaan atau interlibrary loan).
Lebih dari seratus tahun kemudian berdiri perpustakaan khusus di Batavia. Pada tanggal 25 April 1778 berdiri Bataviaasche Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BGKW) di Batavia. Bersamaan dengan berdirinya lembaga tersebut berdiri pula perpustakaan lembaga BGKW. Pendirian perpustakaan lembaga BGKW tersebut diprakarsai oleh Mr. J.C.M. Rademaker, ketua Raad van Indie (Dewan Hindia Belanda). Ia memprakarsai pengumpulan buku dan manuskrip untuk koleksi perpustakaannya. Perpustakaan ini kemudian mengeluarkan katalog buku yang pertama di
Indonesia.
Pada tahun 1962 Lembaga Kebudayaan Indonesia diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia dan namanyapun diubah menjadi Museum Pusat. Koleksi perpustakaannya menjadi bagian dari Museum Pusat dan dikenal dengan Perpustakaan Museum Pusat. Nama Museum Pusat ini kemudian berubah lagi menjadi Museum Nasional, sedangkan perpustakaannya dikenal dengan Perpustakaan Museum Nasional. Pada tahun 1980 Perpustakaan Museum Nasional dilebur ke Pusat Pembinaan Perpustakaan. Perubahan terjadi lagi pada tahun 1989 ketika Pusat Pembinaan Perpustakaan dilebur sebagai bagian dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Perkembangan Perpustakaan Perguruan Tinggi di Indonesia dimulai pada awal tahun 1920an. Mengikuti berdirinya sekolah tinggi, misalnya seperti Geneeskunde Hoogeschool di Batavia (1927) dan kemudian juga di Surabaya dengan STOVIA; Technische Hoogescholl di Bandung (1920), Fakultait van Landbouwwentenschap (er Wijsgebeerte Bitenzorg, 1941), Rechtshoogeschool di Batavia (1924), dan Fakulteit van Letterkunde di Batavia (1940). Setiap sekolah tinggi atau fakultas itu mempunyai perpustakaan yang terpisah satu sama lain.
Di samping perpustakaan yang didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda, sebenarnya tercatat juga perpustakaan yang didirikan oleh orang Indonesia. Pihak Keraton Mangkunegoro mendirikan perpustakaan keraton sedangkan keraton Yogyakarta mendirikan Radyo Pustoko. Sebagian besar koleksinya adalah naskah kuno. Koleksi perpustakaan ini tidak dipinjamkan, namun boleh dibaca di tempat. Pada masa penjajahan Jepang hampir tidak ada perkembangan perpustakaan yang berarti. Jepang hanya mengamankan beberapa gedung penting, di antaranya Bataviaasch Genootschap van Kunten Weetenschappen. Selama pendudukan Jepang openbareleeszalen ditutup. Volkbibliotheek dijarah oleh rakyat dan lenyap dari permukaan bumi. Karena pengamanan yang kuat pada gedung Bataviaasch Genootschap van Kunten Jurnal Pustakawan Indonesia volume 6 nomor 162 Weetenschappen, maka koleksi perpustakaan ini dapat dipertahankan, dan merupakan cikal bakal dari Perpustakaan Nasional.
Perkembangan pasca kemerdekaan mungkin dapat dimulai dari tahun 1950an yang ditandai dengan berdirinya perpustakaan baru. Pada tanggal 25 Agustus 1950 berdiriperpustakaan Yayasan Bung Hatta dengan koleksi yang menitikberatkan kepada pengelolaan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Indonesia. Tanggal 7 Juni 1952 perpustakaan Stichting voor culturele Samenwerking, suatu badan kerjasama kebudayaan antara pemerintah RI dengan pemerintah Negeri Belanda, diserahkan kepada pemerintah RI. Kemudian oleh Pemerintah RI diubah menjadi Perpustakaan Sejarah Politik dan Sosial Departemen P & K.
Dalam rangka usaha melakukan pemberantasan buta huruf di seluruh pelosok tanah air, telah didirikan Perpustakaan Rakyat yang bertugas membantu usaha Jawatan Pendidikan Masyarakat melakukan usaha pemberantasan buta huruf tersebut. Pada periode ini juga lahir Perpustakaan Negara yang berfungsi sebagaiperpustakaan umum dan didirikan di ibukota provinsi. Perpustakaan Negara yang pertama didirikan di Yogyakarta pada tahun 1949, kemudian disusul Ambon (1952); Bandung (1953); Ujung Pandang (Makassar) (1954); Padang (1956); Palembang (1957); Jakarta (1958); Palangkaraya, Singaraja, Mataram, Medan, Pekanbaru dan Surabaya (1959). Setelah itu menyusul kemudian Perpustakaan Nagara di Banjarmasin (1960); Manado (1961); Kupang dan Samarinda (1964). Perpustakaan Negara ini dikembangkan secara lintas instansional oleh tiga instansi, yaitu Biro Perpustakaan Departemen P & K yang membina secara teknis, Perwakilan Departemen P & K yang membina secara administratif, dan pemerintah daerah tingkat provinsi yang memberikan fasilitas
Sejarah Perpustakaan Islam
Pada masa kejayaan Islam perpustakaan merupakan sarana untuk belajar yang pada ahirnya umat Islam dapat membangun peradaban dan kejayaannya yang bertahan beberapa abad lamanya. banyak informasi dan ilmu pengetahuan yang tidak terdokumentasikan dengan baik oleh umat Islam dilupakan begitu saja. Akibatnya tatanan umat Islam baik aspek ekonomi, politik, sosial, budaya dan aspek kehidupan yang lain mengalami stagnasi. Sehingga ahirnya umat Islam hanya menjadi umat pengikut dari bangsa maju, yang dalam hal ini adalah dunia barat. Padahal kita menyadari bahwa kemajuan dunia barat dicapai dengan melalui penguasaan ilmu pengetahuan yang di ambil dari pusat-pusat ilmu pengetahuan musli seperti perpustakan.
Dari paparan diatas menunjukan betapa pentingnya perpustakaan dalam pengembangan suatu bangsa. Dalam hal ini banyak ilmu pengetahuan , informasi dan dokumentasi yang di sediakan perpustakaan memiliki peran yang sangat besar dalam pemberdayaan umat. Banyak literatur yang mengungkapkan bahwa perpustakaan sebagai tempat aktivitas belajar, yang kegiatannya hampir sama dengan apa yang di lakukan di sekolah-sekolah. Fungsi dan peran perpustakaan ini banyak di adopsi oleh perpustakaan di negara maju seperti Inggris, Australia dan Kanada. Banyak perpustakaan di ubah menjadi learning center atau resources center. Hal ini mengidentifikasikan bahwa perpustakaan yang di perankan pada masa kejaaan Islam sangat penting dan representatif untuk pengembangan dan memajukan masyarakat.
Masa Perintisan Perpustakaan
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka
Pada masa Nabi Muammad SAW dan para sahabatnya, perpustakaan dalam pengertian di atas tidak di temukan. Tapi cikal bakal atau rintisan perpustakaansudah ada, yaitu sebagai berikut:
1.Wahyu Allah yang pertama kepada Nabi Muhammad SAW ialah perintah kepada umat Islam untuk membaca (Iqra’).
2.Rasulullah SAW mengangkat para sahabatnya, antara lain; Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, dan Khalid bin Walid sebagai penulis Al Qur'an.
3.Perintah Rasulullah SAW kepada tawanan perang Badar untuk mengajari anak-anak Muslim membaca dan menulis.
4.Pada masa Rasulullah SAW muncul keinginan menulis Al Qur'an dalam bentuk mushaf pribadi seperti Mushaf Ubay bin Ka’ab, Mushaf Ibnu Mas’ud, Mushaf Ibn Abbas dan pada ahirnya melahirkan Mushaf Utsmani yang di salin menjadi 4 Mushaf. Tetapi riwayat lain menebutkan lima salinan di sebarkan ke kota Madinah, Makkah, Kuffah, Basrah dan Damaskus. Dan Mushaf-mushaf tersebut di jadikan referensi oleh Umat Islam. Peristiwa diatas mendorong umat Islam gemar menulis dan membaca dan menulis dan semua itu merpakan semangat di dalam perpustakaan.
Masa Pembentukan dan Pembinaan Perpustakaan
Ada beberapa hal yang melatar belakangi pembentukan dan pembinaan perpustakaan perpustakaan, di samping peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa perintisan, antara lain sebagai berikut.
1.Setelah Al Qur'an di kodifikasi dalam bentuk mushaf timbul keinginan masyarakat muslim, terutama yang hidup jauh dari masa Rasulullah SAW untuk memahami Al Qur'an dan ajaran-ajaran Islam sesuai dengan yang di pahami dan dilaksanakan oleh Rasulullah SAW. Muncul keinginan dari sebagian ulama untuk membukukan sabda-sabda Rasulullah SAW, sekalipun pada awalnya mendapatkan tentangan karena berpegang kepada Hadits yang melarang penulisan bersumber dari Rasul selain Al Qur'an. Namun pada masa Umar bin Abdul Aziz (wafat 675 M) beliau dengan otoritasnya memerintah Muhammad bin Muslim bin Syihab az-Zuhri al-Madani (wafat 695 M) untuk menghimpun hadits dan menulisnya dalam sebuah buku. Dia beralasan bahwa Rasulullah melarang menulis hadits karena di khawatirkan akan tercampur dengan Al Qur'an. Padahal pada waktu ia memerintahkan menulis hadits tidak ada kehawatiran tercampur dengan Al Qur'an, karena Al Qur'an sudh di kodifikasikan dalam bentuk mushaf. Kemudian hadits-hadits tersebut ditulis dan disebarluaskan ke penjuru negeri untuk di jadikan referensi.
2.kepeloporan Ibn Syihab az-Zuhri di ikuti oleh ulama-ulma lainnya. Pada masa itu hadits menjadi primadona. Banyak ahli hadits yang rela melakukan perjalanan jauh dan melelahkan hanya demi mendapatkan sebuah hadits dan kemudian dihimpun dalam koleksi mereka masing-masing.ahirnya dikenal dengan koleksi Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan at-Trmudzi, dan koleksi-koleksi linnya. Setiap koleksi bisa terdiri dari tiga jilid atau lebih bhkan sampai belasan jilid, sehingga menambah bahan rujukan Islam.
3.Gerakan penerjemahan yang di pelopori oleh Khalifa al-Mansur dari Daulah Abbasiyah telah membantu dalam penambahan jumlah koleksi pustaka pd waktu itu. Dia memperkejakan orang-orang Persia yang baru masuk Islam untuk menterjemahkan karya-karya berbahasa Persia dalam bidang astrolgi, ketatanegaraan dan politik, moral, seperti Kalila wa Dimma dan Sindhid di terjemahkankedalam bahasan Arab. Selain itu di terjemahkan dari bahasa Yunani seperti Logika karya Aristoteles, lmagest karya Ptolemy, Arithmetic karya Nicomashus, Geometri kary Euclid. Gerakan penterjemahan dilanjutkan khalifah berikutnya, yaitu al-Al Makmun. Ia membayar mahal hasil penterjemahan.
Bahan pustaka yang cukup banyak tadi berupa mushaf Al Qur'an maun hadits dan karya-karya terjemahan mendorong penguasa pada waktu itu ntuk mendirikan perpustakaan. Perpustakaan yang resmi berdiri pertama kali ntuk publik adalah Baitul Hikmah. Perpustakaan itu bukan saja berfungsi sebagai tempat penyumpanan buku, tetapi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Pada masa Harun al-Rasyid intitusi perpustkaan bernama Khizanah al Hikmah berfungsi sebagai perpustakaan dan pusat penelitian.
Sejak tahun 815M, al-Makmun mengembangkan Lembga itu dengan mengubah namanya menjadi Bait al-Hikmah. Pada masa itu Bait al-Hikmh di gunakan secara lebih maju, yaitu sebagai tempat penyimpanan buku-buku kuno yang di dapat dari Persia, Bizantium, Etiopia, dan India. Direktur perpustakaanya adalah seorang nasionalis persia dan ahli Pahlevi, yaitu Sahl ibn Harun. Pada masa al-Makmun, Bait al-Hikmah ditingkatkan lagi fungsinya menjadi pusat kegiatan studi, riset astronomi dan matematika.
Untuk mengetahui perpustakaan pada waktu itu kita tinjau sekilas berdasarkan jenisnya, yaitu sebagai berikut;
Perpustakaan Umum
Perpustakaan jenis ini biasanya didirikan di masjid–masjid agar orang–orang yang belajar di masjid dan pengunjung dapat membaca buku–buku yang mereka perlukan. Kadang – kadang perpustakaan didirikan di masjid dengan maksud agar lembaga pendidikan dapat menampung pelajar–pelajar yang dating untuk mencari ilmu pengetahuan.
Perpustakaan umum sangat banyak jumlahnya, barang kali untuk menemukan suatu masjid atau sekolah–sekolah yang tidak memiliki perpustakaan dengan koleksinya yang siap di tela’ah dan muraja’ah bagi pelajar dan peneliti yang sedang mengadakan penelitian. Yang termasuk perpustakaan umum adalah sebagai berikut :
a.Baitul Hikmah
b.Al-Haidariyah di An-Najaf
c.Ibnu Sawwar di Basrah
d.Sabur
e.Darul Hikamah di Kairo
f.Perpustakaan-perpustakaan sekolah
Perpustakaan Semi Umum
Perpustakaan semi umum didirikan oleh para khalifah dan raja–raja untuk mendekatn diri kepada ilmu pengetahuan. Adupan perpustakaan semi umum antara lain;
a.Perpustakaan An-Nashir Li Dinillah
b.Perpustakaan Al-Muzta’sim Billah
c.Perpustakaan Khalifah–Khalifah Fathimiyah
Perpustakaan Pribadi
Perpustakaan ini didirikan oleh ulama–ulama dan para sastrawan, khusus untuk kepentingan mereka sendiri. Perpustakaan ini sangat banyak karena hampir semua ulama dan sastrawan memiliki perpustakaan untuk menjadi sumber dan referensi bagi pembahsan dan penelitian mereka. Perpustakaan jenis ini antara lain;
a.Perpustakaan Al-Fathu Ibnu Haqam
b.Perpustakaan hunain Ibnu Ishaq
c.Perpustakaan Ibnul Harsyab
d.Perpustakaan Al Muwaffaq Ibnul Mathran
e.Perpustakaan Al-Mubasysir Ibnu Fatik
f.Perpustakaan Jamaluddin Al Qifthi
Peranan Perpustakaan pada Peradaban Islam
Perpustakaan pada awal kejayaan Islam menunukkan perannya dalam mennjang pendidikan umat. Perpustakaan yang di kelola oleh orang-orang Islam tidak hanya memperhtikan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan keagamaan, seperti msalah ibadah dan teologi, tapi juga mengelola disiplin ilmu yang lain seperti kedokteran, sosial, politik dan sebagainya. Berbagai peran perpustakaan pada masa peradaban Islam yaitu;
Pusat Belajar (Learning Center)
Setelah masa Khulafaur-Rasyidin, peradaban Islam berkembang dengan pesat. Perkembngn itu antara lain adalah proses pendidikan tertama pada mas Umaiyah dan Abbasiyah. Pada masa ini gairah dan apresiasi umat pada perpustakaan sangat tinggi. Mereka membangun perpustakaan, baik umum, khusus maupun perpustakaan pribadi. Sehingga tidak heran banyak masjid dan sekolah memiliki perpustakaan. Mereka menganggap bahwa perpustakaan sama pentingnya dalam membangun ilmu pengetahuan. Bahkan fungsi perpustakaan kadang-kadang tidak dapat di bedakan dengan fungsi lembaga pendidikan karena sama-sma memberikan smbangan dalam pengajaran kepada umat.
Pusat Penelitian
Sesungguhnya peran penelitian yang dilakukan oleh perpustakaan pada masa awal Islam sangat signifikan. Hal ini dapat dilihat dari berbagai peristiwa, misalnya utusan khalifah-khalifah atau raja-raja untuk membahas suatu bidang ilmu tertentu di perpustakaan-perpustakaan yang terkenal memiliki koleksi yang cukup besar dan lengkap seperti Baitul Hikmah dan Darul Hikmah. Disamping itu, para peneliti dan cendekiawan yang mencoba mengembangkan suatu ilmu yang berkaitan dengan keahliannya. Banyak di antara mereka yang melakukan perjalanan dari suatu perpustakaan ke perpustakaan lain untuk merumuskan dan melakukan penemuan-penemuan baru. Tentu saja aktivitas semacam ini tidak pernah terhenti sampai sekarang dan begitu pula pada masa datang selama perpustakaan menjalankan fungsinya sebagai sumber informasi.
Pusat Penerjemahan
Suatu hal yang amat menarik adalah di mana perpustakaan pada masa itu menjadi jembatan dari kebudayaan. Misalnya, kebudayaan dan ilmu pengetahuan Yunani Kuno diterjemahkan ke dalam bahasa Arab untuk dipelajari oleh masyarakat. Dalam konteks ini perpustakaan menjadi sponsor atas semua kegiatan tersebut. Aktivitas semacam ini telah mendapatkan respon positif sehingga para penerjemah memperoleh status yang baik dalam masyarakat. Situasi ini mulai pada saat didirikannya perpustakaan yang pertama dalam dunia Islam. Menurut Kurd Ali, orang yang pertama kali menekuni bidang ini ialah Chalid Ibnu Jazid (meninggal tahun 656 M). Di lain sumber dikatakan bahwa Ibnu Jazid telah mencurahkan perhatiannya terhadap buku lama, terutama dalam ilmu kimia, kedokteran dan ilmu bintang.
Pusat Penyalinan
Salah satu hal yang dapat dibanggakan oleh kaum Muslimin yaitu sejak dari abad pertengahan telah dirasakan pentingnya bagian percetakan dan penerbitan dalam suatu perpustakaan. Oleh karena itu alat-alat percetakan sebagaimana yang kita lihat di abad modern ini
Langganan:
Postingan (Atom)

